 |
Taman Doa Our Lady of Alkita
|
Jakarta mungkin lebih dikenal dengan gedung pencakar langit dan kemacetan lalu lintasnya, tetapi dalam beberapa tahun terakhir kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) berkembang menjadi salah satu destinasi wisata urban paling populer di Indonesia. Kawasan ini awalnya dikenal sebagai area hunian dan bisnis, namun kini telah bertransformasi menjadi pusat wisata, kuliner, hiburan, dan gaya hidup yang menarik ribuan pengunjung setiap akhir pekan.
Salah satu pengembang yang berperan besar dalam perkembangan kawasan ini adalah Agung Sedayu Group dan Salim Group melalui pengembangan PIK 2. Berbagai destinasi baru bermunculan dengan konsep yang unik dan modern, menjadikan kawasan ini sering disebut sebagai "kota wisata baru" di pinggiran Jakarta.
Dalam kunjungan kali ini, saya menghabiskan waktu di tiga destinasi yang memiliki karakter berbeda : Lands End, Rukan Euroasia dan Old Shanghai. Ketiganya menawarkan pengalaman yang membuat akhir pekan terasa seperti sedang berlibur di luar kota.
Lands End: Menikmati Ujung Pantai dengan Nuansa Beach Club Modern
 |
| Land End PIK 2 |
Lands End merupakan salah satu ikon wisata terbaru di kawasan PIK 2. Nama "Lands End" sendiri secara harfiah berarti "ujung daratan", menggambarkan lokasinya yang berada di area pesisir dan menghadap langsung ke laut.
Kawasan ini dikembangkan sebagai destinasi waterfront lifestyle, yaitu area rekreasi yang menggabungkan kuliner, hiburan, dan pemandangan laut dalam satu lokasi. Konsep seperti ini cukup populer di berbagai kota pesisir dunia dan kini hadir lebih dekat bagi warga Jakarta dan sekitarnya.
 |
| Taman Lands End |
Saat saya berkunjung di akhir pekan, area parkir utama sudah penuh. Untungnya tersedia area parkir tambahan di seberang jalan. Dari sana pengunjung bisa berjalan kaki melalui terowongan yang cukup nyaman menuju kawasan utama.
 |
| Food Court |
Begitu tiba, suasana liburan langsung terasa. Deretan kafe berjajar menghadap laut dengan konsep yang beragam. Ada yang menawarkan tempat duduk indoor ber-AC, ada pula yang mengutamakan area outdoor untuk menikmati pemandangan laut secara langsung. Menariknya, beberapa kafe tidak menerapkan minimum order sehingga pengunjung dapat lebih leluasa menikmati suasana.
 |
| Beach Club |
Salah satu daya tarik terbesar adalah area pasir pantai dengan bean bag yang menghadap ke arah laut. Duduk santai sambil menikmati angin sore memberikan sensasi seperti sedang berada di Bali atau destinasi pantai lainnya.
Menjelang senja, suasana semakin hidup. Musik dari DJ mulai terdengar dari beberapa area kafe, sementara langit berubah menjadi gradasi oranye keemasan. Banyak keluarga dan pasangan menghabiskan waktu di sini, bahkan saya melihat beberapa orang bermain layangan yang menambah keindahan suasana sore.
 |
| Suasana Pantai Lands End PIK 2 |
Ketika malam tiba, sebuah bangunan yang menyerupai mercusuar menjadi pusat perhatian. Cahaya lampunya membuat kawasan ini terlihat semakin cantik dan menjadi spot foto favorit para pengunjung.
Rukan Euroasia: Perpaduan Arsitektur Eropa dan Asia
 |
| Rukan Euroasia |
Hari berikutnya saya melanjutkan perjalanan ke Rukan Euroasia.
Kawasan ini merupakan bagian dari pengembangan kawasan komersial PIK 2 yang mengusung konsep perpaduan budaya Eropa dan Asia. Nama "Euroasia" sendiri mencerminkan filosofi tersebut. Deretan bangunan dirancang dengan detail arsitektur yang unik sehingga menciptakan suasana berbeda dibandingkan kawasan ruko pada umumnya.
 |
| Area dalam Eouroasia |
 |
| Lampion |
Meski fungsi utamanya adalah area bisnis dan komersial, banyak pengunjung datang bukan untuk berbelanja, melainkan untuk menikmati suasana dan berburu foto. Setiap sudut kawasan ini terasa sangat fotogenik, mulai dari fasad bangunan, jalan pedestrian, hingga dekorasi kawasan yang dibuat sangat detail.
 |
| Nuansa Jepang |
Tidak jauh dari sana terdapat Taman Doa Our Lady of Akita yang menjadi salah satu destinasi spiritual dan wisata yang cukup populer.
Taman doa ini terinspirasi dari kisah penampakan Bunda Maria di Akita, Jepang, yang dikenal luas oleh umat Katolik. Karena itu, nuansa Jepang sangat terasa pada desain kawasan ini. Mulai dari taman yang tertata rapi, jembatan kecil, hingga elemen lanskap yang memberikan kesan tenang dan damai.
Berjalan santai di area ini memberikan pengalaman yang berbeda dari keramaian kawasan wisata lainnya. Tempat ini cocok bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana yang lebih tenang sambil berfoto dengan latar taman yang indah.
 |
| Sunset at Taman Doa |
 |
Taman Doa Our Lady of Alkita
|
 |
| Nuansa Jepang |
 |
| Iconic |
Old Shanghai: Menyusuri Suasana Kota Shanghai Tempo Dulu
 |
| Gerbang Old Shanghai |
 |
| Old Shanghai |
Meskipun berada di kawasan Sedayu City Kelapa Gading, saya memasukkan Old Shanghai ke dalam perjalanan kali ini karena lokasinya relatif mudah dijangkau setelah berkeliling kawasan PIK.
 |
| Old Shanghai |
Konsep Old Shanghai terinspirasi dari suasana Kota Shanghai pada era 1920-an hingga 1930-an, masa ketika Shanghai dikenal sebagai salah satu kota paling kosmopolitan di Asia. Arsitektur bergaya Tiongkok klasik dipadukan dengan nuansa kota dagang modern pada zamannya, menciptakan suasana yang unik dan penuh nostalgia.
 |
| Mural Old Shanghai |
 |
| Patung Old Shanghai |
 |
| Icon Old Shanghai |
Begitu memasuki kawasan ini, saya langsung disambut deretan bangunan bergaya oriental, lampion merah yang menggantung di sepanjang jalan, serta ornamen khas Tiongkok yang membuat pengunjung serasa berada di distrik wisata Shanghai.
Salah satu daya tarik utama Old Shanghai adalah area hiburan yang sering menghadirkan konser dan pertunjukan musik di area depan. Kehadiran hiburan langsung ini membuat suasana selalu terasa hidup, terutama saat malam hari dan akhir pekan. Pada waktu itu kebetulan ada acara mini konser "Adhitia Sofyan" dengan lagu terkenalnya "Sesuatu di Jogja". Pengunjung tidak sepadat itu jadi sangat nyaman untuk menonton sambil makan dan minum.
 |
| Konser at Old Shanghai |
 |
| Konser Adhitia Sofyan |
Di sisi lain, kawasan ini juga merupakan surga bagi pencinta kuliner. Berbagai tenant makanan dan jajanan tersedia dengan pilihan yang sangat beragam. Harga makanan relatif bervariasi sehingga bisa disesuaikan dengan budget masing-masing pengunjung.
Saat malam tiba, lampion-lampion yang menyala menciptakan suasana yang sangat cantik untuk fotografi. Terdapat pula patung ikonik yang menjadi salah satu spot foto favorit pengunjung. Hampir setiap orang yang datang menyempatkan diri berfoto di area tersebut sebelum melanjutkan wisata kuliner mereka.
Penutup
Liburan tidak selalu harus dilakukan dengan perjalanan jauh atau biaya yang mahal. Kawasan PIK dan sekitarnya menawarkan pengalaman wisata yang lengkap dalam satu hari.
Lands End menghadirkan suasana pantai modern dengan pemandangan sunset yang memukau. Rukan Euroasia menawarkan keindahan arsitektur dan spot foto yang estetik, sementara Old Shanghai membawa pengunjung merasakan nuansa Shanghai tempo dulu yang dipadukan dengan wisata kuliner dan hiburan.
Yang membuat perjalanan ini begitu berkesan bukan hanya tempat-tempatnya, tetapi juga atmosfer yang diciptakan. Mulai dari angin laut yang berhembus lembut di Lands End, ketenangan taman bernuansa Jepang di Euroasia, hingga gemerlap lampion dan aroma makanan di Old Shanghai. Semua pengalaman tersebut menghadirkan sensasi seolah sedang berlibur ke beberapa negara berbeda, padahal semuanya bisa dinikmati hanya dalam satu perjalanan singkat di sekitar Jakarta.