1/01/2018

Food Photography Kunci Sukses Bisnis Makanan dan Minuman

Ada berbagai macam aliran atau genre fotografi yang sudah saya bahas pada artikel sebelumnya. Pada artikel tersebut hanya dijelaskan secara global saja seputar pengertian dari masing – masing genre. Sekarang, saya akan membahas mengenai sub dari genre fotografi yaitu food photography. Makanan difoto, untuk apa? Yah, sekarang ini semua hal tidak lepas dari yang namanya teknologi.

Food Photography adalah salah satu genre dalam fotografi yang khsusus memfoto makanan atau minuman. Food photography lebih diminati oleh fotografer karena memiliki kenikmatan tersendiri salah satunya bisa mencicipi makanan atau minumannya.
Food Photography adalah salah satu genre dalam fotografi yang khusus memfoto makanan atau minuman. Food photography lebih diminati oleh fotografer karena memiliki kenikmatan tersendiri salah satunya bisa mencicipi makanan atau minumannya.


Perkembangan teknologi yang pesat merambah hampir ke semua aspek salah satunya makanan. Banyak usaha makanan di berbagai tempat dengan menu yang ditawarkan pun beragam. Namun,  bagaimana caranya agar calon pelanggan melirik dan mampir ke restoran yang kita miliki? Iklan yang disertai foto menu makanan atau minuman yang dijual. Itu adalah metode pemasaran yang cukup ampuh. Namun tidak sembarangan kita mengambil foto lalu dipajang, kalo fotonya jelek atau tidak menarik pastinya orang – orang enggan mampir ke restoran. Nah di sinilah food fotografi memiliki peran penting. Dengan hasil olah foto sedemikian rupa sehingga hasil foto makanan atau minuman terlihat memiliki estetika dan membuat orang yang melihatnya ingin segera mencicipinya. Setelah itu foto di upload di medsos seperti instagram atau website. Semakin sering kita meng-upload foto makanan dan minuman yang kita jual, restoran kita juga semakin banyak dikenal oleh masyarakat luas.

Food photography
Food photography

Kenapa memilih food photography?

Menurut salah satu sumber (seorang fotografer profesional) yang pernah di wawancara di media televisi, alas an memilih aliran atau genre fotografi ini adalah karena objek foto berupa benda mati sehingga mudah diatur semau kita tanpa perlu merasa canggung. Dan salah satu lagi yang menjadi alas an adalah objeknya berupa makanan atau minuman, sehingga setelah sesi foto – foto makanan dan minuman tersebut bisa langsung di cicipi (ini mungkin alas an orang yang sukanya makan hehe). Dengan kata lain genre ini sangat fun untuk dijalanai, kita kerja di bayar sekaligus dapat bonus makanan dan minuman enak tentunya.

Kesulitan atau tantangan dalam Food Photography

Jenis makanan dan minuman di Dunia sangat beragam tentunya, baik dari segi bentuk, texture ataupun warnanya. Untuk Indonesia sendiri memiliki segudang jenis makanan terutama makanan tradisional. Yang jadi kendala adalah warna makanan di Indonesia cenderung berwarna gelap, tidak seperti makanan yang berasal dari luar negeri yang memiliki warna cerah. Warna ini lah yang menjadikan makanan Indonesia kurang menarik dilihat. Butuh imajinasi dan pencahayaan yang tepat agar makanan ini terlihat menarik ketika di foto.

Teknik Melakukan Food Photography

Objek

Makanan atau minuman yang akan menjadi objek jepretan harus benar- benar yang masih fresh, sehingga terlihat segar dan menggoda perut. Letakkanlah makanan atau minuman pada tempat yang sesuai dengan konsep yang diinginkan, umumnya diletakkan pada meja. Satu lagi, tempat atau wadah makanan seperti mangkok dan  gelas juga harus menarik sehingga mengangkat kualitas makanan yang ada di atasnya.

Contoh hasil jepretan food photography
Contoh hasil jepretan food photography
digitografi
Contoh minuman
Menggoda lidah - digitografi
Menggoda lidah
Manisnya pas
Gurih
Memiliki estetika
Segar untuk segera diminum

Pencahayaan

Cahaya, ini merupakan salah satu hal penting yang sangat diperhatikan oleh seorang food fotografer karena Food photographi bisanya dilakukan di area indoor ( di salam ruangan). Dengan adanya pencahayaan yang teratur dengan baik, bisa membuat efek jepretan kamera menjadi lebih menarik dan terlihat memiliki nilai seni dan juga estetika. Sumber pencahayaan ini yang biasa di gunakan adalah lampu khusus seperti yang ada di studio foto. Jumlah lampu yang digunakan pun beragam 1 – 3 buah. Untuk fotografer professional biasanya menggunakan 3 buah sumber pencahayaan, namun untuk pemula disarankan menggunakan 1 atau 2 saja. Ketika menggunakan 3 buah lampu, diperlukan imaginasi yang tinggi dan settingan yang sesuai sehingga menghasilkan efek yang bagus. Jadi tidak bisa sembarangan menempatkan lampu tersebut tanpa memperhitungkan komposisinya.

Kamera  dan Lensa

Kamera yang digunakan sebaiknya menggunakan kamera yang memiliki kualitas bagus, baik itu dari segi sensor maupun lensanya apapun itu mereknya. Jenis kamera yang digunakan adalah DSLR dan Prosumer (Nikon, Canon, Samsung, Sony atau merek lainnya). Jangan menggunakan kamera abal – abal yang tidak bisa di setting ISO, Shutter Speed, Aperture dan yang settingan yang lainnya apabila ingin hasil yang benar – benar terlihat professional.

Lensa yang digunakan tidak usah terlalu banyak, 2 atau 3 saja sudah cukup sebenarnya. Misalnya lensa Tele (Zooming) dan lensa macro (fix). Untuk lensa tele bisa menggunakan lensa bawaan atau kit (misalnya 18 – 55 mm). Lensa macro (fix) inilah yang mungkin harus membawa lebih dari 1, misalnya untuk ukuran 22mm, 28mm dan 35mm, disesuaikan dengan kebutuhan saja.

Load disqus comments

0 comments